Insting Manusia

Bagian 1
Saya baru tahu rasanya menyewa kamar kos, dan bagaimana pengalaman main kucing-kucingan dengan pemiliknya tepat pada tanggal di mana saya harus membayar. Ini pertama kali, tapi rasanya saya sudah mulai ahli menghindar dari kejaran si landlord. Untuk menghilangkan jejak, saya keluar sebelum subuh menuju masjid, saat dia masih belum bangun. Dan, tentunya, saya pulang setelah dia tidur. Dalam hal ini, saya pikir saya sudah sebelas dua belas dengan maling.

Setelah beberapa hari, barangkali dia frustasi dan bangun lebih pagi, dia berdiri tepat di depan saya yang baru keluar dari kamar mandi saat subuh menjelang. Saya telat bangun seperti biasa. Mungkin dia juga berharap saya kesiangan. Dengan nada datar saya mendahului pembicaraan, "Eh, iya, Pak. Kwitansinya belum saya ambil." Padahal, bagaimana caranya mendapatkan tanda bukti pembayaran sebelum lunas.

"Sampean belum bayar minggu ini toh, Mas." Timpalnya sambil tersenyum manis, meski campur sinis.

"Kelas saya penuh, Pak. Jadi harapan saya untuk ketemu bapak tak kunjung ada. Sekarang saya belum pegang uang." Saya pikir itu jawaban cerdas, tapi ternyata dia sudah pegang kunci kamar yang saya sewa beserta tas besar, yang ketika dibawa ke bawah lampu, itu ternyata milik saya. Ok, saya menyerah. Dalam keadaan bersarung dan kaos oblong saya melangkah perlahan menenteng tas, membuka kunci sepeda, dan mengayuhnya menuju masjid. Pulang ke masjid adalah insting paling manusiawi yang saya punya di saat semua petak tanah lainnya hanyalah milik pak kos dan istrinya beserta anak-anaknya.

Bagian 2
Pada mulanya, setiap perut membutuhkan asupan gizi yang cukup agar tubuh dapat beraktifitas secara maksimal. Namun karena banyak hal yang berkaitan dengan ketidakpastian rezeki, di mana seringkali terjadi pada beberapa orang yang masuk kategori disadvantaged people, mereka mencari strategi lain yaitu dengan mengaharap sisa makanan orang di warung. Hal ini mungkin dilakukan bilamana jumlah meja sangat besar di sebuah kedai yang arealnya luas. Semisal Warung Pojok di Jalan Anyelir nomor 1, Pare, yang meja-meja di halamannya jauh dari kasir dan tempat pelayan stenbai. Nah, di situ saya biasanya menunggu 'mangsa' sisa lahapan yang tak tidak dihabiskan oleh pemangsa sebelumnya.

Cukup banyak kadang, meski seringkali hanya secuil dibanding kebutuhan nutrisi saya seluruhnya. Tapi kalau sudah rezeki, Allah memberi lebih, sisa dua porsi jika disatukan bisa jadi seporsi. Semakin banyak pelanggan datang, terutama cewe-cewe yang ngomongnya lu gue, semakin besar kesempatan saya untuk mendulang sisa makanan yang mau tidak mau harus disantap di tempat. Jadi, jumlah cewe-cewe lu gue berbanding lurus dengan jumlah makanan sisa yang akan saya terima.

Jalan cerita yang lain sebelumnya pernah terjadi. Saya ceritakan ya. Dulu, sewaktu kami masih di semester awal dan diwajibkan mengenakan jas alamamater ke kampus, saya, Fauzi, dan Rosid mesti mampir ke Rektorat UB untuk sekedar melihat pengumuman seminar. Jadwal seminar seperti halnya jadwal perbaikan gizi bagi kami, jadi bankdata tak ubahnya jadwal prasmanan.

UB sering mengadakan seminar, dan tiap seminar atau acara begitu pasti ada sesi makannya. Nah, itulah kesempatan yang kami nantikan, meski isi seminarnya tak berkaitan sama sekali dengan basis keilmuan yang sedang kami pelajari. Profesor asal Thailand ngomong soal bakteri pun kami dengarkan, asal setelah itu kami bisa makan. Jangan lupa bawa jas alamamater agar bisa masuk ke ruangan dengan mudah. Jika sangat beruntung, kami bisa membungkus beberapa potong bistik untuk lauk nanti malam.

Selain rektorat ada juga Widyaloka. Kau tahu lantai satu Widlok? Di sanalah tempat makanan bercokol. Untuk masuk ke sana, butuh keahlian gaya gocekannya Riquelme yang tenang dan tak banyak gerak itu. Satu dua langkah harus bisa kenyang. Jadi kampus adalah satu-satunya tempat di kota ini yang menyediakan buku, dosen, dan prasmanan gratis. Dua hal yang tak populer di kampus kami saat itu, yaitu kemahasiswaan yang tak memahasiswakan dan kemanusiaan yang tak memanusiakan. Hahahaha.

Posting Komentar

0 Komentar